Becak yang dipasangi alat Biosteam ini bisa berjalan hingga 60 km/jam.
Tumbuh-tumbuhan umumnya dijadikan hiasan baik di taman atau di dalam
ruangan. Kulit buah dan batang sayuran, umumnya juga akan dibuang
setelah buah dan sayurnya kita makan dan olah. Tapi, yang dianggap
sampah ini ternyata dapat menghasilkan bahan bakar alternatif pengganti
bensin atau Bahan Bakar Minyak.
Sebuah inovasi baru ditemukan sekelompok Mahasiswa Universitas Airlangga
(UNAIR) Surabaya. Alat ini berupa Biosteam Converter. Kemampuan alat
ini bisa mengubah sampah menjadi sebuah bahan bakar kendaraan.
Biosteam Converter berguna mengubah bioetanol atau alkohol cair menjadi uap. Transformasi ini agar bioetanol bisa digunakan pada kendaraan bermotor.
“Ide pembuatan alat Biosteam untuk menjadikan Bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan ini pun bermula dari terbatasnya produsen Bioetanol dalam mendistribusikan Bioetanolnya pada konsumen,” kata salah satu mahasiswa UNAIR, Mochammad Safari, di sela-sela acara Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-25 di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis 12 Juli 2012.
“Mitra kami ingin memproduksi Bioetanol tapi terbatas, karena permintaan yang masih kurang. Masyarakat yang umumnya masih belum tahu kegunaan Bioetanol ini. Padahal Bioetanol ini sangat bermanfaat,” jelasnya.
Penelitian ini awalnya diaplikasikan pada becak bermotor. Kendaraan tradisional ini dipilih karena sarana transportasi yang khas Indonesia.
“Saat ini juga ada fenomena baru berupa becak motor. Kami menyimpulkan, ini sebenarnya wujud dari Biosteam tadi. Biosteam menjadikan bioetanol sebagai bahan bakarnya,”paparnya.
Kendaraan bermotor pada dasarnya dapat dijalankan menggunakan bioetanol berkadar 99 persen dengan campuran etanol 15 persen, dan bensin 85 persen. Takaran ini sesuai anjuran pemerintah. Tapi, kendaraan sudah bisa berjalan menggunakan bioetanol dengan takaran 96 persen dicampur etanol dan bensin yang masing-masing 50 persen.
“Bahkan, dengan Bioetanol 100 persen murni tanpa campuran bensin, kendaraan juga sudah bisa dijalankan. Meskipun, kurang maksimal,” terangnya.
Selain sebagai bahan pengganti alternatif, bioetanol ini juga memiiliki keunggulan lain. Bahan bakunya yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan dan sampah organik. Bahan bakar dari bioetanol ini dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. Bioetanol memiliki gas buang atau emisi yang rendah.
“Becak yang dipasangi alat Biosteam ini dapat berjalan hingga 60 km per jam,” katanya.
Biosteam Converter berguna mengubah bioetanol atau alkohol cair menjadi uap. Transformasi ini agar bioetanol bisa digunakan pada kendaraan bermotor.
“Ide pembuatan alat Biosteam untuk menjadikan Bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan ini pun bermula dari terbatasnya produsen Bioetanol dalam mendistribusikan Bioetanolnya pada konsumen,” kata salah satu mahasiswa UNAIR, Mochammad Safari, di sela-sela acara Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-25 di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis 12 Juli 2012.
“Mitra kami ingin memproduksi Bioetanol tapi terbatas, karena permintaan yang masih kurang. Masyarakat yang umumnya masih belum tahu kegunaan Bioetanol ini. Padahal Bioetanol ini sangat bermanfaat,” jelasnya.
Penelitian ini awalnya diaplikasikan pada becak bermotor. Kendaraan tradisional ini dipilih karena sarana transportasi yang khas Indonesia.
“Saat ini juga ada fenomena baru berupa becak motor. Kami menyimpulkan, ini sebenarnya wujud dari Biosteam tadi. Biosteam menjadikan bioetanol sebagai bahan bakarnya,”paparnya.
Kendaraan bermotor pada dasarnya dapat dijalankan menggunakan bioetanol berkadar 99 persen dengan campuran etanol 15 persen, dan bensin 85 persen. Takaran ini sesuai anjuran pemerintah. Tapi, kendaraan sudah bisa berjalan menggunakan bioetanol dengan takaran 96 persen dicampur etanol dan bensin yang masing-masing 50 persen.
“Bahkan, dengan Bioetanol 100 persen murni tanpa campuran bensin, kendaraan juga sudah bisa dijalankan. Meskipun, kurang maksimal,” terangnya.
Selain sebagai bahan pengganti alternatif, bioetanol ini juga memiiliki keunggulan lain. Bahan bakunya yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan dan sampah organik. Bahan bakar dari bioetanol ini dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. Bioetanol memiliki gas buang atau emisi yang rendah.
“Becak yang dipasangi alat Biosteam ini dapat berjalan hingga 60 km per jam,” katanya.
Entri Terkait:
Unik
- Kreasi Pasir Yang Sangat Mengagumkan
- Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Lipat Baju, Rapi dalam 11 Detik!!!
- 9 Panggilan 911 Yang Paling Konyol
- 10 Raksasa yang Pernah Ada di Dunia
- 5 Kapal Kayu Terbesar di Dunia
- Hewan-hewan Paling Fenomenal di Dunia
- Hewan-hewan yang Telah Mengalami Evolusi
- Ayam Tanpa Bulu Telah Berhasil Dikembangkan oleh Para Ilmuwan
- Desa Terapung di Danau Titicaca yang Menakjubkan
- Lastel, Hotel Mayat di Jepang yang Sedang Booming
- Alex, Seorang Bocah yang Dapat Kehilangan Nyawanya Hanya Karena Rumput atau Setitik Debu
- 10 Ledakan Terdasyat dan Terbesar di Alam Semesta
- Ilmuwan Ciptakan Kulit Antipeluru
- Eksotis, Mengunjungi Keindahan 'Pintu Langit' Maha Karya Alam
- Boneka Okiku, Boneka Aneh yang Rambutnya Bisa Memanjang
- Jepang Olah Tinja Manusia Jadi Makanan
- Danau Ini Terpaksa Dikeringkan, Hanya Karena Dikencingi Orang
- " Ghost Car " Mobil Unik yang Tembus Pandang
- Ternyata Burung Kakatua Juga Memberikan Nama Panggilan Pada Anak-anaknya
- Sinetron-sinetron Terunik di Indonesia dari Masa ke Masa
- Jangan Pernah Menterjemahkan Bahasa IT ke Bahasa Indonesia
- P-Tree, Solusi Toilet Mini di Tempat Terbuka
- Anak Ini Selalu Berhenti Bernafas Saat Tidur
- " Tiktaalik Roseae " Ikan yang Bisa Berjalan